NextCard Visa
Join All Advantage Now!



CDnow


 

Riau-Jambi

Bagian 1 dari 2

Istilah Melayu yang kita kenal dewasa mi bermula digunakan  untuk  menyebut  sekelompok penduduk yang mempunyai ciri-ciri fisik atau rasial yang berbeda dengan kelompok penduduk yang memiliki ciri-ciri rasial Mongoloid yang berasal dan Asia Selatan. Berdasarkan penelitian paleo-antropologi  serta arkeologi,  dapat diperkirakan bahwa sejak 2500 SM terjadi gelombang perpindahan penduduk dan daratan Asia ke arah kepulauan Nusantara.

Selain ciri-ciri rasial yang menandai kedatangan orang-orang dan daratan Asia, juga dibawa serta kompleks kebudayaan tertentu, karena itu mereka memang berhak menyandang nama sebagai pendukung kompleks kebudayaan khusus. Namun karena luasnya persebaran dan besarnya keanekaragaman kebudayaan yang mereka kembangkan, seorang sarjana Perancis yang mempunyai perhatian besar pada asul-usul, perkembangan, dan persebaran kebudayaan di Asia Selatan menamakan kelompok penduduk dan kebudayaan yang menyebar di kepulauan Nusantara sebagai Indonesia untuk membedakan dengan penduduk dan kebudayaan di daratan Asia Tenggara. Di antara sempalan penduduk yang kemudian menetap di sepanjang pantai kepulauan  Nusantara  dan  kemudian  mengembangkan kebudayaan pantai yang bertumpu pada kebudayaan perdagangan ialah mereka yang kemudian dikenal sebagai orang Melayu. 

Di Indonesia orang Melayu dikenal sebagai salah satu sukubangsa yang cukup besar peranan dan sumbangan dalam pengembangan kebudayaan nasional. 

Ciri paling mendasar bagi identitas kesukubangsaan Melayu pada masa sekarang adalah bahasanya yang mendasari bahasa nasional Indonesia, mem eluk agama Islam, dan kebudayaan yang cenderung terbuka terhadap pembaharuan.  Ciri yang lain nampaknya berangkat dan anggapan penduduk ash, bahwa orang atau kelompok yang beralih memeluk agama Islam adalah menjadi orang Melayu seperti yang terjadi di pulau Kalimantan dan Sumatera. 

Menjadikan bahasa sebagai pegangan untuk mengidentifikasikan suku-suku bangsa Melayu tidak dapat diterapkan sepenuhnya. Karena suku-suku bangsa yang bahasanya termasuk rumpun bahasa Melayu belum tentu mengaku sebagai orang Melayu, sebaliknya mereka lebih suka menggunakan identitas kesukubangsaannya sendiri, seperti orang Minangkabau. Lampung, Banjar, dan sebagainya. 

Sementara itu ada kelompok-kelompok sukubangsa yang dengan tegas menyebut dirinya sebagai orang Melayu, yang dibedakan dari sukubangsa Melayu lain berdasarkan batas geografis dan kesejahteraan. Dengan demikian dikenal adanya sukubangsa Melayu Langkat atau Melayu Deli, Melayu Jambi, Melayu Riau, Melayu Bangka, Melayu Pontianak, dan seterusnya. 

Melayu Riau

Pada abad-abad yang dulu mereka sempat mempunyai beberapa kerajaan, seperti kesultanan Bintan atau Tumasik, kandis atau kuantan, Gasib atau Siak, Kriteng atau Inderagiri, Malaka, Rokan, Siak Sri Inderapura, kampar, Pelalawan, Singingi, dan sebagainya. 

Orang Melayu di Riau mi amat sedikit yang bertanam padi di sawah, karena keadaan alamnya tidak memungkinkan untuk itu, namun ada juga yang berladang. Pada masa lalu mungkin mereka lebih mengandalkan mata pencaharian mengolah sagu, mengumpulkan hasil hutan, menangkap ikan, berladang, dan berdagang.  Dalam sistem perladangan tanaman yang biasa dibudidayakan antara lain padi, ubi, sayuran, dan buah-buahan. Mereka juga menanam jenis tanaman keras yang sangat tinggi harganya, yaitu karet. 

Berdasarkan prinsip keturunan atau kekerabatan orang Melayu Riau menarik garis keturunan yang cenderung bilateral. Setiap keluarga inti mendiami sendiri, kecuali pasangan baru yang biasanya menumpang di rumah orang tua pihak istri sampai mereka memiliki anak.  Oleh sebab itu pola menetap orang Melayu Riau dapat dikatakan neolokal. Keluarga inti yang disebut kelamin umumnya mendirikan rumah di lingkungan tempat tinggal pihak istri. 

Dahulu orang Melayu Riau hidup mengelompok menurut asal keturunan yang disebut suku yang sifatnya patrilineal. Akan tetapi mereka yang bermukim dekat wilayah kebudayaan Minangkabau membentuk suku yang matrilineal, dan ada yang menyebutnya hinduk (induk atau cikal bakal).  Setiap suku dipimpin oleh seorang penghulu. Kalau suku itu bermukim di sebuah kampung, maka penghulu akan langsung menjadi datuk penghulu kampung (kepala kampung).  Setiap penghulu dibantu oleh beberapa tokoh adat, seperti, batin, jernang, tua-tua, dan monti. Sedangkan di bidang kcagamaan dipimpin oleh imam dan khotib. 

Bentuk kesenian orang Melayu Riau kebanyakan bernafaskan budaya Islam. Di sini berkembang seni sastra keagamaan yang dinyanyikan dengan iringan musik rebana, berdah, kerompang, atau kompang, dan sebagainya.  Di dalam masyarakat pernah terkenal bentuk-bentuk teater rakyat, seperti makyong, dul muluk, mendu, dan lain-lain. Musik Melayu dianggap sebagai dasar dan perkembangan musik dangdut yang populer sekarang. 

AKIT

Sukubangsa Akit berdiam di pulau Rupat, sebuah pulau di wilayah propinsi Riau. Pada masa lampau kegiatan hidup mereka lebih banyak dilakukan di perairan laut dan muara-muara sungai. Mereka mendirikan rumah di atas rakit-rakit yang mudah di pindahkan dan satu tepian ke tepian lain.  Daerah mereka termasuk ke dalam kepenghuluan Hutan Panjang, kecamatan Rupat, kabupaten Bengkalis. Jumlah populasinya sekitar 3.500 jiwa.

Menurut cerita orang tua-tua mereka, nenek moyang orang Akit berasal dan salah satu anak suku Kit yang menghuni daratan Asia Belakang.  Karena suatu alasan mereka mengembara ke selatan, melewati Semenanjung Malaka. Keadaan telah memaksa mereka mengenal gelombang dan asinnya air laut, tetapi juga kebebasan bergerak di atas rakit dan sampan. Dengan demikian mereka telah mulai mengembangkan kehidupan adaptif di perairan kepulauan Riau.

Orang Akit menggantungkan kehidupannya kepada kegiatan berburu, menangkap ikan dan mengolah sagu. Mereka berburu babi hutan, kijang atau kancil dengan menggunakan sumpit bertombak, panah, dan kadangkala pakai perangkap.  Teman setia mereka untuk perburuan macam itu adalah anjing.

Orang Akit memiliki adat kebiasaan bersunat yang sebenarnya sudah jauh sebelum agama Islam masuk. Prinsip garis keturunan mereka cenderung patrilineal.  Selesai upacara perkawinan seorang isteri segera dibawa oleh suaminya ke rumah mereka yang baru, atau menumpang sementara di rumah orang tua suami.  Pemimpin otoriter boleh dikatakan tidak kenal dalam masyarakat sederhana mi, tetapi karena pengaruh kesultanan Siak masa dulu sukubangsa Akit mengenal juga pemimpin kelompok yang disebut batin.  Orang Akit dikenal pemberani dan berbahaya sekali dengan senjata sumpit beracunnya. Sehingga mereka diajak bekerja sama memerangi Belanda yang pada zaman itu sering menangkapi orang Akit untuk dijadikan budak. Mereka menyebut orang Melayu sebagai orang selam, maksudnya Islam.  Sistem kepercayaan aslinya berorientasi kepada pemujaan roh nenek moyang.  Pada masa sekarang sebagian orang Akit sudah memeluk agama Budha, terutama lewat perkawinan perempuan mereka dengan laki-laki keturunan Tionghoa.

Indonesia Media

 

 

 

         
       
FastCounter by bCentral