|
|
|
|
|||
|
|
|
||||
| BERITA TANAH AIR LOCAL NEWS MANCA NEGARA OPINI BUDAYA&TRADISI IMMIGRATION TOKOH ENGLISH KOMIK AMRIK HEMAT & NIKMAT JENAK JENAKA PENGALAMAN FAMILI & PARENTING |
Virgo Handojo Salah satu issue yang sering menimbulkan konflik
antara anak dan orang tua adalah acara nonton TV. Kapan, berapa sering,
dan acara apa yang boleh dan tak boleh ditonton sering menjadi perdebatan
yang panas bagi hubungan orang
tua dan anak. Lebih dari 1000
orang di Amerika diwawancarai. Salah satu pertanyaan adalah berapa uang
yang mereka mau terima untuk menghentikan kebiasaan mereka untuk nonton
TV. Hasilnya sungguh mengejutkan. 46 persen mengatakan mereka tak akan mau
melepas kebiasaan nonton TV bila dibayar kurang dari sejuta dollar.
Sementara itu, 25 persen mengatakan mereka lebih memberati TV daripada
menerima uang sebanyak itu. Ini sungguh memprihatinkan. Riset tentang pengaruh TV terhadap perkembangan
jiwa anak tidaklah menggembirakan. Kegemukan dikalangan anak ternyata ada
hubungannya dengan kebiasaan menonton TV. Secara fisiologis nonton TV
memang tidak membuat anak jadi ketagihan seperti kalau merokok atau
mengganja. Namun demikian, isi acara TV itu sendiri sangat memacu
adrenalin anak yang menyebabkan anak menjadi ketagihan secara psikologis.
Program yang penuh dengan kekerasan, ketegangan, dan seringkali berisi
adegan yang merangsang, sangatlah memacu adrenalin. Secara alamiah,
pemulihan adrenalin dalam tubuh menimbulkan perasaan depress. Tanpa
disadari anak cenderung untuk mencari acara yang lebih “hot” lagi
untuk menaikan adrenalinnya dan mengurangi rasa depressnya. Pada akhirnya
anak atau pemirsa TV tanpa disadari menjadi kecanduan nonton TV.
Kalau anak anda mulai menunjukan gejala tidak
lagi mau mengikuti aktivitas-aktivitas routine demi untuk nonton TV, atau
media pasif lainnya, maka ia dapat dikatakan sudah kecanduan media. Riset
menemukan adannya hubungan antara kecanduan media dengan tingginya tingkat
kecemasan, perasaan tertolak, dan kurang percaya diri. TV dan video
merupakan media yang pasif. Sikap pasif pada waktu memantau TV tidak
mendukung perkembangan ketrampilan emosional dan sosial anak. Spontanitas,
interaksi dan komunikasi dalam keluarga akan berkurang dengan habisnya
waktu di depan layar TV. Akibatnya anakpun kurang berelasi secara sosial
dengan orang lain. Tidak heran kemampuan EQ (Emotional Quotion atau
intelligence) anak jadi ikut melorot. Dalam jangka panjang hal ini akan
mempengaruhi kerpibadian anak tersebut. Pada sisi lain, banyak siaran TV yang baik untuk
pendidikan anak. Riset menemukan anak-anak TK sampai kelas lima yang suka
nonton berita, ternyata lebih memiliki pengetahuan tentang politik, lebih
suka mendiskusikan berita tersebut dengan teman-temannya, lebih tertarik
dengan masalah-masalah publik, dan lebih suka mencari informasi-informasi
lanjut tentang apa yang mereka tonton. Dengan demikian memacu perkembangan
pengetahuan dan ketrampilan anak untuk berdiskusi. Pada sisi lain, program
yang berisi kekerasan dan stereotyping tentang jenis kelamin lebih membawa
dampak negatip ganti daripada positip. Acara TV juga mempengaruhi
fantasi, kreativitas, tingkah laku dan interaksi anak. Apakah ini
menghasilkan hal yang positip atau negatip, itu masih dalam perdebatan.
Yang jelas, banyak factor lain yang perlu dipertimbangkan seperti
kepribadian anak, kecerdasan, tingkat sosial keluarga, disiplin ornag tua
dll, sebelum kita dapat mengatakan dengan pasti apakah TV berdampak
positip atau negatip. Dengan kata lain, tidaklah mudah buat orang tua
untuk menciptakan suasana dalam rumah yang membantu pendidikan anak. TV,
anggauta keluarga yang tak bernyawa, namun kemampuannya dapat
menghancurkan atau membantu pertumbuhan anak anda. Untuk itu saya akan
memberikan beberapa saran praktis dalam menghadapi masalah ini. Pertama, sadarilah bahwa pola menonton TV
orangtua akan mempengaruhi pola menonton TV anak. Ketidak mampuan orang
tua dalam mengatasi ketagihan TV menunjukan juga tingkat ketidakmampuan
orangtua dalam mengatur jadwal nonton TV anak. Jadi mulailah mengatur
hidup anda, sebelum mengatur hidup anak-anak. Berhentilah lebih dulu dari
rokok dan mabuk saudara sebelum menghentikan kebiasaan merokok atau minum
anak. Sebagai patokan, janganlah ijinkan anakmu memirsa
lebih dari dua jam/hari didepan TV atau video. Kedua, banyak orang tua memakai TV sebagai
pengasuh yang paling murah. Kalau anda sungguh cinta kepada anak saudara,
sebaiknya hentikanlah kebiasaan itu. Kita perlu memberikan disiplin yang
baik dalam pola menonton TV. Abelman (1986) melaporkan risetnya
Children’s awareness of television’s prosocial care di Journal of
Family Issues. Ia menemukan bahwa orangtua yang gaya mendisiplin anaknya
memakai teknik induktif (Misalnya, memberi penjelasan mengapa ia
tak boleh atau boleh nonton TV), anak-anaknya
pada umumnya dapat mengambil manfaat positip dari nonton TV. Sementara
itu, orang tua yang suka memaksakan kehendaknya atau menakuti anak dengan
menarik kasih sayangnya ternyata lebih dipengaruhi program-program anti
sosial ganti daripada pro sosial. Secara praktis, orang tua sebaiknya
berinteraksi dengan anak untuk menentukan dan membimbing anak mana acara
yang patut ditonton, berapa lama, dan kapan waktu menontonnya. Penjelasan
yang masuk akal akan membantu anak untuk dapat menentukan pilihan program
yang baik, benar, dan tepat. Ketiga, pada umumnya acara nonton TV hanyalah
untuk mengisi waktu luang. Karena itu, merencanakan program pengganti
untuk nonton TV perlulah diadakan. Ajaklah anak untuk bermain bersama.
Pergi keperpustakaan, hiking, camping, atau jalan-jalan bersama akan lebih
berguna daripada nonton TV. Bermain komputer tidaklah sama dengan nonton
TV. Komputer lebih bersifat interaktif daripada TV. Namun demikian,
sadarilah bahwa komputer adalah benda mati yang tidak berjiwa, tak bisa
tersenyum dan memberikan kehangatan seperti anda. Ia tak bisa menggantikan
anda. Karena itu main komputer juga perlu dibatasi.
Akhirnya, janganlah lupa menjawab pertanyaan
anak anda, “Papa, Bolehkan aku Menonton TV?” |
Anda ingin
Berlangganan Indonesia Media?
|
|||
|
FastCounter by bCentral |
|||||